Berlibur di Monako?Wow!” Komentar penuh rasa kagum ini diucapkan spontan petugas imigrasi Bandara Schipol, Belanda, ketika memeriksa paspor saya. Monako, kawasan sempit seluas 70 hektare di pinggir Laut Tengah itu memang penuh pesona. Akibat sempitnya wilayah, tak lebih luas dari kawasan Senayan, Jakarta, untuk datang ke sana, wisatawan harus terbang lewat Nice, Perancis. Artinya, mendarat di negara tetangga. Monaco memang bukan Perancis, tetapi sebuah kerajaan berdaulat dengan bendera, pemerintahan, dan juga punya paspor sendiri.

Monegasque, sebutan untuk warga negara Monaco, jumlahnya hanya sekitar 5.000 orang. Namun, yang ikut menetap di negara ini diperkirakan lebih dari 30.000 orang. “Artinya, terdapat 25.000 penduduk musiman, orang-orang kaya dari seluruh penjuru dunia, yang tinggal di sini untuk menghindari tagihan pajak di negaranya,” kata Michelle, pemandu wisata yang saya sangka bintang film, sewaktu menjemput ke Bandara Nice.

Negara terkecil di dunia setelah Vatikan ini terletak di tebing berbatu-batu dan praktis tidak ada yang bisa ditawarkan, selain pemandangan indah serta iklim hangat Mediteranian. Orang asing selalu dipikat agar terus-menerus datang melalui jaminan keamanan dan izin boleh berbisnis apa saja. Segala kemudahan tersebut menjadikan biaya hidup di Monaco sangat mahal, tetapi punya tambahan pemikat. Sepanjang tahun tersusun rapi beragam agenda kegiatan; sejak balap mobil Fomula 1 sampai pertandingan tenis master dunia, dari penghargaan pengusaha terbaik sedunia, hingga lomba kapal pesiar.

Monako, yang terbagi dalam dua wilayah, Monte Carlo dan The Rock, tampil bagaikan sebuah negeri dongeng, sesudah Pangeran Rainier III tahun 1956 menikah dengan Grace Kelly, bintang cantik asal Hollywood. Semua unsur dongeng terpenuhi, kerajaan indah di tepi pantai, permaisuri cantik, raja kaya raya, dan pesta mewah sepanjang waktu.

Pernikahan mereka membuahkan tiga anak: Caroline, Albert, dan Stephanie. Tahun 1982 Putri Grace meninggal, mobilnya jatuh ke jurang. Nyatanya, pesona Monako sudah terbentuk dan wisatawan terus membanjir berkunjung ke Taman Mawar, yang khusus dibangun untuk mengenang Putri Grace, atau berziarah ke makamnya di dalam katedral. Pangeran Rainier yang tahun lalu tutup usia dan posisinya sekarang telah digantikan oleh Pangeran Albert Grimaldi pernah mengaku, “Saya memimpin Monaco seperti mengelola perusahaan, semua kegiatan dan segala sektor harus bisa menghasilkan…”

Hasilnya mengejutkan. Semisal kawasan yang kini bemama Fontvieille; penuh bangunan, stadion, dan pelabuhan kapal pesiar. Tahun 1972 Fonivieille hanya laut dangkal yang kemudian dikeringkan, dan Rainier bisa memperluas seperdelapan daratan Monaco menjadi tambahan wilayahnya. Keberhasilan tersebut kini dilanjutkan lewat proyek reklamasi Fontvieille II.

Pendapatan utama Monaco berasal dari sektor pariwisata. Ketika wisatawan datang berduyun-duyun, mereka tanpa sadar ikut memberi sumbangan banyak sekali, sejak membayar sewa hotel berikut beragam pengeluaran tambahan, yang semua harganya selalu selangit. Jangan heran, setiap pengelola tur rohani Roma-Lourdes atau wisatawan dengan tawaran paket perjalanan darat rute Paris-Roma, pasti hanya singgah makan siang di Monaco. Kalau pakai bermalam, harga paketnya menjadi sangat mahal, dan tidak semua wisatawan akan mampu membayar.

Tidak pernah disebutkan tetapi adalah kenyataan, sebagian besar wisatawan datang ke Monako untuk berjudi, yang secara resmi memang diizinkan. Berbeda dengan kasino di tempat lain, di sini pengunjung tidak boleh datang sembarangan. Semua penjudi harus serapi James Bond dengan cewek-ceweknya, seperti tampak pada film Casino Royale. Semua rapi, wangi, dan yang pasti, membawa banyak uang, sebab ada batas minimum untuk bisa ikut mendekat ke meja judi.

Warna bendera Monaco persis Indonesia, merah-putih. Karena itu, kalau melihat puluhan bendera dikibarkan, umbul-umbul dipasang di tepi jalan, lengkap dengan spanduk raksasa yang semuanya pakai warna merah-putih, jangan merasa bahwa kehadiran kita di Monaco memperoleh perlakuan VIIP. Lalu, mengapa harus beberapa malam menginap di Monaco kalau memang tidak senang judi?

Jangan khawatir, tersedia akuarium raksasa dengan koleksi segala macam ikan sejak dari kutub sampai perairan tropika. Sepanjang waktu ada beragam konser musik, aneka macam olahraga, dan rumah makan dengan sajian menu nikmat dari seluruh dunia. Michelle menambahkan, “Bahkan, sekadar pengalaman menunggu senja turun di pantai Monte Carlo saja, tidak bisa tertandingi. Harus dilakukan berulang-ulang karena setiap hari suasana selalu berbeda..”