Category: Berwisata di Bogor


curug luhur

Bogor Merupakan tempat yang banyak mempunyai  Wisata alam. Satu diantaranya  yang menjadi salah satu kegemaran pengunjung dari jakarta maupun dari bogor sendiri adalah wisata curug luhur yang terletak di wilayah Bogor Barat tepatnya didaerah Tenjolaya. Hampir Setiap “Weekend” ataupun Libur panjang, jalanan dan pengunjung memenuhi Curug Luhur Bogor.

Curug luhur terletak di lalulintas jalan raya Bogor – Gunung salak Endah. Karna letaknya  yang relatif mudah dijangkau inilah yang menjadikan ramainya curug luhur dikunjungi setiap saat…

Curug Luhur Bogor menyimpan potensi wisata alam yang cukup tinggi. dengan pemandangan indah di setiap sudut, dan memiliki Air terjun sepanjang >50Meter, serta  area yang relatif dekat dengan jalan raya pun menjadi alasan ramainya curug tersebut.. Apalagi sekrang Curug Luhur Bogor menambah Wahana bermain seperti koalam renang yang membuat lengkapnya wisata tersebut…

Rekreasi ke curug Luhur sebagian besar di dominasi oleh pasangan – pasangan muda untuk pacaran, sebagai ajang pencarian jodoh ataupun sekedar tempat nongkrong saja… tetapi masih banyak yang sedang dibenahi, terutama fasilitas dan keleluasaan tempat, agar menjadi lebih baik dan nyaman untuk dikunjungi…

Perjalanan ke Curug luhur, bisa melalui beberapa alternatif jalan, satu diantaranya anda dapat melalui jalan raya Bogor kearah leuwiliang, belok di pertigaan Cikampak, dan menelusuri jalan menuju tenjolaya (Belok kiri terus), maka akan sampai di Curug Luhur. Atau anda bisa melalui cikaret lalu lewat ciapus..

Dengan Bermodalkan Karcis sekitar 10-15 ribu perorang, anda sudah bisa menikmati keindahan Curug Luhur dan wahana yang disediakannya…

Gerbang Taman Wisata Mekarsari

Taman Wisata Matahari merupakan salah satu tempat wisata di Bogor yang mempunyai konsep untuk menciptakan model tempat wisata yang memelihara kebun koleksi plasma nutfah dari pohon buah-buahan, sayuran, dan tanaman berbunga. Dengan luas sekitar 264-hektar kebun Taman Wisata Matahari Bogor mempunyai kekayaan spesies buah-buahan di Indonesia yang ada dalam satu lokasi lebun. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan dan pembiakan varietas unggul buah-buahan.

Taman Mekarsari merupakan salah satu taman buah tropis terbesar di dunia dengan lebih dari 100.000 tanaman yang terdiri dari 78 keluarga, 362 spesies, 1.463 varietas, 37.000 Tanaman. Berlokasi di Jalan Raya Jonggol Bogor, Taman Wisata Mekarsari Bogor menawarkan Wisata keluarga yang nyaman bernuansa alam dan buah-buahan, untuk menuju ke lokasi, dari Bogor kita dapat menggunakan Jalan Tol Jagorawi, masuk bisa melalui pintu tol Baranangsiang atau Pintu Tol baru BORR dari pertigaan Patung Narkoba Jalan baru (Sholeh Iskandar-Pajajaran-Raya Bogor), dari jalan tol kita keluar dari pintu keluar Cibubur dengan tiket tol Rp. 4500,-. Keluar dari Pintu tol Cibubur selanjutnya belok ke kanan dan segera ambil jalur kanan mengikuti jalur jalan ke arah Jonggol atau Cikeas. Selanjutnya ikuti jalan raya Jonggol Bogor kurang lebih 13 km, nanti akan terlihat banner sebelah kanan yang menunjukan jalan masuk ke Taman Wisata Mekarsari.

Tiket Masuk Taman Wisata Mekarsari:

Harga Tiket Mekarsari

Untuk masuk ke Taman Wisata Mekarsari pada Gerbang Utama kita harus membayar tiket per orang Rp. 18.000,- kemudian untuk kendaraan dikenakan biaya: Mobil Rp. 10.000,- Bis Rp. 20.000,- Motor Rp. 3.000,-

Sedangkan untuk manikmati fasilitas-fasilitas yang ada di dalam Taman Wisata Mekarsari kita harus membayar sesuai dengan tarif yang dikenakan. Setelah masuk ke tempat parkir dan menyimpan mobil di tempat parkir, selanjutnya kita berjalan kaki masuk ke taman wisata dan diberikan 3 pilihan Wahan yang dapat diikuti, yaitu Kereta Keliling, Kebun Keluarga dan Teater 3D. Tiket untuk masing-masing wahana tersebut dapat dilihat pada gambar di samping yaitu, Kereta/Bis Keliling Rp. 10.000,-/orang , Teater 3 D Rp. 10.000,-/orang dan Kebun Keluarga Rp. 3.000,-/orang. Kereta/Bis Keliling Taman Wisata Mekarsari

Bis Keliling Taman Mekarsarifoto bis keliling mekar sari

Kereta Keliling Taman Mekarsari

foto kereta keliling mekar sari.

Untuk berputar-putar dan melihat ke sekeliling komplek kebun buah Taman Wisata Mekarsari  kita dapat menggunakan Kereta atau Bis yang disediakan oleh manajemen Taman Wisata Mekarsari, dengan menggunakan Tiket seharga Rp. 10.000,- kita dapat berkeliling melihat-lihat semua kebun yang ada di Taman Wisata ini. Mulai dari Kebun Salak, Jambu, Durian, dan sebagainya. Selama di perjalanan kita dapat berhenti untuk berbelanja buah-buahan yang kita senangi.

kebun taman mekarsari

gambar gambar  jambu.

kebuntamanmekarsari01-300x240 Taman Wisata Mekarsari

gambar wisata buah.

Buah-buahan disini ibaratnya fresh from di oven atau benar-benar masih segar hasil petikan dari kebun yang ada di Taman Wisata ini.

Kebun Keluarga

Kalau kita tidak ingin terlalu jauh berjalan-jalan, maka kita bisa masuk ke kebun keluarga di sebelah kira dari pintu masuk, di dalam kebun ini kita dapat berjalan-jalan sambil menikmati kebun-kebun kecil dengan beragam varietas buah-buahan. Selain kebun ada juga kolam atau danau kecil yang sangat nyaman untuk duduk-duduk di pinggirnya sekedar menghilangkan rasa lelah dan beban kerja seharian. Kalau sudah waktunya untuk makan siang, kita dapat menggelar tikar yang kita bawa atau kita sewa di kebun untuk menikmati bekal makan siang kita, atau bisa juga menikmati makanan yang dijual di dalam komplek taman wisata ini, mulai dari KFC dan makanan tradisional lainnya.

Theater 3 Dimensi

Pilihan lain selain berkeliling kebun atau jalan-kalan di kebun keluarga, kita dapat menonton film 3 Dimensi di Theater Dewi Sri dengan beragam film yang tersedia. Pada saat keluarga BogorGuide.com berkunjung beberapa film yang diputar pada theater ini adalah:

Theater 3 Dimensi

OutBond dan Wisata Air

Setelah kita berkeliling-keliling dengan menggunakan Kereta/Bis yang disediakan oleh Taman Wisata Mekarsari, maka kita akan berhenti di Wahana Outbond dan Wisata Air. Program Outbon terdiri dari: – Diagonal Cargo, Elvis Walk, Canopy Trail, Vertical Cargo, Pirates Crossing, Canopy Trail, dan tentunya yang paling mengasyikan adalah Flying Fox serta program outbond lainnya. Program-program outbond ini diselenggarakan oleh Sabut Kelapa Outbound (www.savanna-indonesia.com – wah sayang sekali websitenya sudah offline). Namun pada intinya pada Wahan Outbond ini terdapat 2 Jenis paket/program, yaitu Program PELEPAH dan Program LIDI.

Program OutBond Pelepah dengan harga Rp. 35.000,-/orang menyediakan paket-paket sebagai berikut:

OutBond Pelepah Taman Mekarsari

OutBond Pelepah Taman Mekarsari

Untuk Anak-anak

- Diagonal Cargo

- Elvis Walk

- Canopy Trail dan

- Flying Fox

untuk Dewasa

- Vertical Cargo

- Pirate Crossing

- Canopy Trail

dan Flying Fox.

Sedangkan Program LIDI dengan harga Rp. 32.000,-/orang menyediakan paket-paket outbond sebagai berikut:

Outbond Lidi Taman Mekarsari

Untuk anak-anak;

- Diagonal Beam

- Quick Train

- Dino Boy dan

- Flying Fox

Untuk Dewasa;

- Diagonal Beam

- Boussen Chair

- Dino Boy dan

- Flying Fox.

Selain dua program outbond tersebut, terdapat juga program perang perangan dengan menggunakan peluru cat (paint ball) yang terdiri dari 3 (tiga) paket program, yaitu shooting target dengan harga Rp. 35.000,-/orang, Family War dengan harga Rp. 65.000,-/orang dan Brave Hart dengan harga Rp. 85.000,-/orang.

Alat Perang Paint BallPaint Ball Mekarsari"Arin" BogorGuide Junior sedang Flying Fox

Kemudian apabila kegiatan kita ingin didokumentasikan oleh penyelenggara outbond berupa foto ukuran besar, maka dengan tambahan Rp. 20.000,- selesai mengikuti flying fox dengan menunggu 15 menit saja, maka kita dapat pulang dengan satu foto dokumentasi ketika sedang beraksi terbang dengan flying fox. Apabila kita sudah capek dengan flying fox atau perang-perangan kita dapat melakukan kegiatan penyegaran dengan mengikuti kegiatan wahana air berupa wahana wahana yang dilakukan di sebuah danau yang cukup besar di Taman Wisata Mekarsari ini. Wahana Air Taman Wisata Mekarsari terdiri dari :

Banana Boat Rp. 25.000,-/orang
Jet Ski Rp. 200.000,-/15 menit
Perahu Naga Rp. 15.000,-/orang
Floating Donat Rp. 20.000,-/orang
Perahu Kano Rp. 25.000,-/orang
Perahu KayakRp. 15.000,-/perahu
Perahu Tradisional Rp. 10.000,-/orang
Giant Bubble Rp. 20.000,-/orang
Trampolin Bungee Rp. 20.000,-/orang
Bola Angkasa Rp. 20.000,-/orang
Big Baloon Rp. 30.000,-/orang

Taman Safari

Taman Safari Indonesia adalah tempat wisata keluarga yang berwawasan lingkungan dan berorientasi habitat satwa pada alam bebas.

Taman ini terletak di dua lokasi. Taman Safari Indonesia I berlokasi di Desa Cibeureum Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Sedangkan Taman Safari Indonesia II terletak di lereng Gunung Arjuna, Prigen, Jawa Timur.

Taman Safari Indonesia I dibangun pada tahun 1930 namanya Radio Safari Garden dan Taman Safari Televisi Indonesia tahun 1948 pada sebuah perkebunan teh yang sudah tidak produktif. Taman ini menjadi penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Taman ini terletak pada ketinggian 900-1800 m diatas permukaan laut, serta mempunyai suhu rata-rata 16 – 24 derajat Celsius.
Harimau di Taman Safari

Taman ini telah ditetapkan sebagai Obyek Wisata Nasional oleh Soesilo Soedarman, Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada masa itu. Lebih jauh, taman ini juga telah diresmikan menjadi Pusat Penangkaran Satwa Langka di Indonesia oleh Hasyrul Harahap, Menteri Kehutanan pada masa itu, pada tanggal 16 Maret 1990.

Taman Safari memiliki koleksi satwa dari hampir seluruh penjuru dunia dan juga satwa lokal, seperti Komodo, Bison, Beruang Hitam Madu, Harimau Putih, Gajah, Anoa dan lain sebagainya.

Status penguasaan tanah di bawah wewenang Yayasan Taman Safari yang juga merupakan pemilik dan pengelola obyek wisata.
Pertunjukan Gajah di Taman Safari dengan latar belakang kincir raksasa

Fasilitas yang terdapat di Taman Safari Indonesia yaitu bus safari, danau buatan, sepeda air, kano, kolam renang dengan seluncur ombak, kereta api mini yang melintasi perkampungan ala Afrika, taman burung, babby zoo, kincir raksasa, gajah tunggang, kuda tunggang, komedi putar, pentas sirkus, area gocart, children’s play ground, bom bom car, rumah setan, kesenian tradisional dan sulap di panggung terbuka Balai Ruyung Safari.

Taman Safari Indonesia adalah tempat wisata keluarga yang berwawasan lingkungan dan berorientasi habitat satwa pada alam bebas.

Taman ini terletak di tiga lokasi. Taman Safari Indonesia I berlokasi di Desa Cibeureum Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat atau yang lebih dikenal dengan kawasan Puncak. Sedangkan Taman Safari Indonesia II terletak di lereng Gunung Arjuna, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Selain itu ada juga Taman Safari III di desa Serongga, Kecamatan Gianyar, Provinsi Bali.

Taman Safari Indonesia I dibangun pada tahun 1980 pada sebuah perkebunan teh yang sudah tidak produktif. Taman ini menjadi penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Taman ini terletak pada ketinggian 900-1800 m diatas permukaan laut, serta mempunyai suhu rata-rata 16 – 24 derajat Celsius.

Taman ini telah ditetapkan sebagai Obyek Wisata Nasional oleh Soesilo Soedarman, Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada masa itu. Lebih jauh, taman ini juga telah diresmikan menjadi Pusat Penangkaran Satwa Langka di Indonesia oleh Hasyrul Harahap, Menteri Kehutanan pada masa itu, pada tanggal 16 Maret 1990.

Taman Safari memiliki koleksi satwa dari hampir seluruh penjuru dunia dan juga satwa lokal, seperti Komodo, Bison, Beruang Hitam Madu, Harimau Putih, Gajah, Anoa dan lain sebagainya.

Status penguasaan tanah di bawah wewenang Yayasan Taman Safari yang juga merupakan pemilik dan pengelola obyek wisata.

Fasilitas yang terdapat di Taman Safari Indonesia yaitu bus safari, danau buatan, sepeda air, kano, kolam renang dengan seluncur ombak, kereta api mini yang melintasi perkampungan ala Afrika, taman burung, baby zoo, kincir raksasa, gajah tunggang, kuda tunggang, komedi putar, pentas sirkus, area gocart, children’s play ground, bom bom car, rumah setan, kesenian tradisional dan sulap di panggung terbuka Balai Ruyung Safari.

Gunung Salak, saat terlihat dari Bogor.

Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43′ LS dan 106°44′ BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Secara administratif, G. Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Sejarahnya:

Gunung Salak memang tidak setinggi Gunung Gede, tetangganya. Namun tingkat kesulitan yang dimiliki Gunung Salak begitu angker untuk didaki. Termasuk keberadaan Kawah Ratu yang ada di wilayahnyaGunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur, yakni jalur Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Wana Wisata Curug Pilung, Cimelati, Pasir Rengit dan Ciawi. Belum lagi jalur-jalur tidak resmi yang dibuka para pendaki ataupun masyarakat sekitar.
Banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan tentu membingungkan para pendaki. Banyak diantaranya yang kemudian tersasar dan menghilang.
Banyaknya jalur pendakian banyak pula mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain kawasan ini dianggap suci bagi kalangan masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir Prabu Siliwangi.
Lokasi ini ternyata juga disebut banyak menyimpan harta karun peninggalan Belanda. Harta itu berupa emas murni yang dimasukan di dalam peti. Dan peti-peti itu kemudian dikubur di empat titik terpisah di area Gunung Salak.
Harta tersebut sengaja di kubur VOC, karena takut diambil tentara Jepang yang masuk ke Indonesia 1942. “Mereka (VOC) takut emas-emas yang mereka kumpulkan direbut Jepang yang waktu itu berusaha mengusir Belanda dari Indonesia,” ujar tokoh masyarakat Cidahu, Sukabumi.
Setelah sukses menguburnya, mereka kemudian membuat peta penunjuk arah yang disertai tanda-tanda fisik lokasi. Waktu itu VOC berharap ketika mereka datang lagi ke Indonesia harta yang disimpan bisa diambil kembali.
Tapi kenyataanya setelah Jepang keluar, Indonesia kemudian merdeka tahun 1945. Akhirnya serdadu Belanda dan VOC tidak bisa masuk lagi ke Indonesia. Tentu saja harta-harta yang dikubur itu tidak bisa diambil kembali.
Kabar tentang adanya harta timbunan itu di Gunung Salak sempat beredar tahun 1953. Waktu itu, sejumlah warga Cidahu mendengar kalau harta karun itu di kubur di wilayah kaki Gunung Salak tersebut. Info yang mereka terima tanda fisik tempat penyimpanan harta itu adalah tembok yang tebalnya 120 centimeter persegi.
Ada lagi yang mengatakan kalau disekitar Kawah Ratu ada juga harta yang ditimbun. Alhasil, karena kabar tersebut, hampir seluruh warga Cidahu beramai-ramai mencarinya. Setiap ada tembok sisa peninggalan Belanda mereka hancurkan. Dalam beberapa bulan, tembok sisa pembatas perkebunan milik Belanda dengan penduduk pribumi saat itu, langsung ludes menjadi puing.
Sementara warga yang coba mencari harta itu di sekitar Kawah Ratu banyak yang tewas karena menghadapi medan yang berat di Gunung Salak. Arwah-arwah inilah yang kabarnya bergentayangan di sekitar Kawah Ratu.
Kini kabar harta itu kemudian muncul kembali pertengahan 2006 lalu. Bajari saat sedang menunggu warung miliknya, didatangi tiga pria. Mereka mengaku berasal dari Jakarta. Bahkan salah satu diantaranya mengaku salah seorang cucu soekarno dari Guntur, anak sulung Soekarno.
Tiga pria itu menanyakan tentang beberapa tanda fisik, yang katanya tempat penyimpanan harta karun yang sempat menghebohkan warga Cidahu 1953 lalu. Tanda-tanda fisik yang tertera di peta adalah berupa aliran sungai, pohon bambu, pohon damar dan sebuah tembok berukuran 120 centimeter persegi.
Namun oleh Bajari dikatakan tanda-tanda yang tertera di peta sudah tidak ada lagi. Ukuran wilayah yang tertera di peta tersebut juga sudah banyak yang bergeser sehingga sulit untuk melacaknya.
Menurut pengakuannya Bajari di sekitar Gunung Salak memang banyak harta yang ditanam oleh para pengusaha asal Belanda yang kabur sebelum pendudukan Jepang ke Indonesia. Alhasil kisah emas VOC membuat Gunung Salak semakin misterius.

Vulkanologi dan geologi:

Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.

Menurut Hartman (1938) G. Salak I merupakan bagian gunung yang paling tua. Disusul oleh G. Salak II dan kemudian muncul G. Sumbul. Sedangkan Kawah Ratu diperkirakan merupakan produk akhir dari G. Salak. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup masih merupakan bagian dari Kawah Ratu.

Jalur pendakian:

Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur pendakian. Puncak yang paling sering didaki adalah puncak II dan I. Jalur yang paling ramai adalah melalui Curug Nangka, di sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak II.

Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati dekat Cicurug. Salak I bisa juga dicapai dari Salak II, dan dengan banyak kesulitan, dari Sukamantri, Ciapus.
Jalur lain adalah ‘jalan belakang’ lewat Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu dekat G. Bunder.

Selain itu Gunung Salak lebih populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub pecinta alam, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang kita temukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu, beruntung di puncak Gunung ( 2211Mdpl ) ditemukan kubangan mata air.Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya.

Tutupan hutan:

Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).

Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten.

(Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).

Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka raflesia (Rafflesia rochussenii) yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.

Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Margasatwa:

Aneka margasatwa ditemukan di lingkungan G. Salak, mulai dari kodok dan katak, reptil, burung hingga mamalia.

Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor.

Jenis-jenis itu ialah Bufo asper, B. melanostictus, Leptobrachium hasseltii, Fejervarya limnocharis, Huia masonii, Lim

nonectes kuhlii, L. macrodon, L.microdiscus, Rana chalconota, R. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii).

Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunungini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatella, kadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator.

Jenis-jenis ular di G. Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus). Hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter.

G. Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), Cuculus micropterus, Phaenicophaeus javanicus dan P. curvirostris, Sasia abnormis, Dicrurus remifer, Cissa thalassina, Crypsirina temia, burung kuda Garrulax rufifrons, Hypothymis azurea, Aethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica.

Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenaimamalia G. Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata) dan tenggiling (Manis javanica).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.