Air Terjun Curug Dago

Curug Dago yang terletak di Bandung Utara berada pada ketinggian 800 meter diatas permukaan laut. Tinggi air terjun mencapai 30 meter. Selain dapat menikmati keindahan air terjun, di Curug Dago juga kita dapat menyimak jejak sejarah Kerajaan Thailand. Tak jauh dari lokasi air terjun, terdapat dua prasasti batu tulis peninggalan sekitar tahun 1818 Masehi.

Menurut para ahli sejarah, kedua prasasti tersebut konon merupakan peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) yang pernah berkunjung ke Curug Dago. Untuk mencapai lokasi ini, bisa ditempuh berjalan kaki ataupun menggunakan kendaraan roda dua dari PLTA Bengkok. Setelah mencapai PLTA Bengkok, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan sisi kiri dan kanan jeram berbatu hitam.

Tepat berada di atas jembatan, terlihat pemandangan air terjun sejauh 10 meter ke bawah di sebelah kiri dan suara gemuruh air terjun sudah mulai terdengar. Lebatnya pepohonan yang berada di lokasi Curug Dago, membuat sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan menyinari tanah yang berlumut berada di bawah. Fenomena alam ini sangat indah untuk dinikmati. Semakin jauh berjalan menelusuri hutan yang lebat, suara gemuruh air terjun semakin keras terdengar.

Curug Dago

Keragaman Indonesia adalah berkah Tuhan yang Maha Esa, yang bisa dikelola menjadi kekuatan daya tarik bangsa lain untuk berkunjung. Ragam keindahan itu pun tidak hanya pada tradisi yang beribu jumlahnya namun juga kekayaan alam yang tak terhingga banyaknya. Jawa Barat adalah lumbung bagi kekayaan alam yang memiliki nilai jual tinggi untuk dinikmati jutaan orang sebagai tempat wisata. Ada yang sudah dikenal, banyak juga yang tidak banyak di kenal.

Di kawasan Bandung Utara terdapat tempat indah yang baru dikenal banyak orang di tahun 1990 setelah seorang wartawan Bandung bernama Omas Witarsa menulis tetang keindahannya berikut adanya prasasti raja Thailand yang di buat di tahun 1896. Tertatik dengan apa yang disampaikan Omas Witarsa melalui suratnya kepada Ratu Thailand Bhumiphol Selanjutnya Negara Thailand meminta kepada Indonesia memberikan pengamanan dan pelestarian terhadap peninggalan purbakala. Kemudian ditindaklanjuti oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala melaksanakan kegiatan penelitian dan pelestarian terhadap prasasti Curug Dago tanggal 9 – 15 Juli 1991.

Menurut S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland dalam bukunya Gids Van Bandoeng En Omstrcken1922 kedua temuan prasasti tersebut erat kaitannya dengan kunjungan keluarga Kerajaan Siam (Tailand) ke Bandung, yakni Raja Chulalongkorn serta Pangeran Prajatthipok Paramintara, yang masing-masing merupakan raja ke V dan VII dari Dinasti Chakri. tujuan penulisan kedua prasasti di Curug Dago yang memuat nama kedua nama raja dan pangeran itu menjadi jelas yaitu merupakan penghormatan terhadap ke dua tokoh tersebut, lengkap dengan penulisan inisial, angka tahun serta catatan usia kedua tokoh. Memang ada tradisi yang menyatakan bahwa pada umumnya apabila seseorang raja Thai menemukan tempat panorama yang indah, maka biasanya di tempat tersebut sang raja melakukan semadhi dan kadangkala menuliskan nama atau hal lainnya yang dianggap penting. Sekaligus merupakan kenangan dan pengakuan atas kekeramatan/kesucian tempat tersebut.

Untuk menuju kawasan Curug Dago ada dua alternatif yang bisa ditempuh. Bisa melalui jalan di seberang terminal Dago, atau  melalui taman budaya. Baik melalui terminal dago maupun taman budaya, pengunjung tidak bisa membawa kendaraan roda empat ke lokasi, kecuali kendaraan roda dua.

Menyusuri jalan setapak berukuran satu  meter yang saya ambil setelah menempuh perjalanan setengah kilo meter dari jalan besar seberang terminal dago, terasa sangat sejuk  deitengah pemukiman penduduk  menjelang lokasi. Jalannya dibeton cukup rapi sehingga terasa nyaman untuk dilalui.

100 meter menjelang jembatan Curug Dago, terdapat plang yang sudah mulai terkelupas tulisannya di sana sini. Pang tersebut menjelaskan bahwa Curug Dago berada di bawah pengelolaan taman hutan raya Ir. H. Juanda, dan di dalamnya dilarang mendirikan bangunan juga melakukan penebangan.

Dari sebuah jembatan yang membentang di sungai Cikapundung ini, tak jauh dari plang tadi tampak jelas dua bangunan kecil merah berbentuk khas bangunan Thailand dengan atap sirap berornamen seperti kuil khas Thailand. Di dua bangunan itulah  prasasti raja Thailand  terletak. Prasasti tersebut erat kaitannya dengan kunjungan raja Thailand Raja Chulalongkorn serta Pangeran Prajatthipok Paramintara, yang masing-masing merupakan raja ke V dan VII dari Dinasti Chakri.

Untuk menuju lokasi dibutuhkan kehati hatian. Jalannya cukup curam dengan pagar yang sudah tidak utuh sehingga besi pegangannnya sudah tidak ada. Namun hal inilah yang membuat sebagian pengunjung penasaran dan sedikit beruji nyali untuk menuruni anak tangga curam yang agak licin karena tebing di sebelah kanan meneteskan air yang nampaknya merupakan  mata air di tebing tersebut.

Setelah berada di bawah nampak jelas air terjun sekira 30 meter tersebut. Di musim hujan seperti ini airnya sangat deras. Air terjun persis di apit batuan andesit yang juga dirindangi pohon pohon besar. Berada di bawah, di batu prasasti Raja Thailand terasa sangat adem. Bila anda ingi berpose di cungkup tempat batu prasasti tersbut, untuk kualitas gambar yang baik, anda sebaiknya menggunakan blitz karena keadaan yang agak gelap, meski saya kunjungi situs bersejarah tersebut di siang hari.

Kembali ke atas anda harus siap siap dengan jalan yang mendaki. Stamina tentu saja diperlukan. Bila anda merasa tidak fit sebaiknya nada tidak perlu turun ke batu prasasti, karena kembali ke atas anda perlu tenaga lebih untuk bisa melaluinya.

Di sekitar curug ada taman, sebuah warung dan juga dua bangunan yang difungsikan untuk  beristirahat. Bangku bangku beton juga disiapkan di taman tersebut. Menurut penuturan Warga masih banyak yang berjalan jalan ke daerah tersebut. Diantara pramuka, anak skolahan dan juga club sepeda atau pejalan kaki yang rata rata sudah berusia lanjut. Anak skolahan pun yang berkunjung ke daerah itu kebanyakan hanya siswa dari sekolah yang tidak jauh dari lokasi.

Namun sebenarnya curug ini sangat dikenal oleh siswa di sebuah sekolah sma negeri di Lembang. Dadan siswa SMA dari Lembang yang sempat dijumpai di lokasi mengatakan bahwa banyak teman temannya yang sering berkunjung ke tempat tersebut untuk sekedar ngaso dan juga berwisata menikmati  suasana yang segar dan nyaman untuk menjernihkan fikiran. (Morgen Indra Margono).

Mencoba sarana baru “Flying fox”  di Taman Wisata Air Terjun Curug Dago:

Untitled-1

“Paradisi in sole, Paradisus Territris”

(John Parkinson 1629)

Kuncen Bandung dalam bukunya “Semerbak Bunga di Bandung Raya “ di halaman 331 bab X  mengutip sebuah ungkapan bahasa Belanda  yang ditulis oleh John Parkinson 1629  : ”Paradisi in sole Paradisus territris” , yang artinya Taman dibawah terik matahari adalah surga diatas bumi .

Sebuah ungkapan yang begitu dalam yang membuat kita menjadi sadar bahwa pentingnya taman bagi lingkungan hidup kita . Taman sebagai lahan terbuka dengan aneka tumbuhan apalagi bila dilengkapi dengan sarana umum yang berkelas , sehingga taman-taman itu wangi harum bunga nan mekar berseri dan tidak menjadi taman Pesing ( ini bukan nama tempat  yang ada di daerah Jakarta  lho) maksudnya “ maaf….! berbau pesing karena tanpa fasilitas wc yang terawat baik kalaupun ada !” .

Pada zaman dulu taman dikota Bandung terdapat dua macam taman dan di bangun sesuai peruntukannya seperti ;

1. Taman berfungsi  sebagai Monumen peringatan . Beberapa contoh misalnya         Pieterspark (Taman Merdeka) dan    Ijzerman park (taman Ganesha).  2. Taman kota biasa berfungsi sebagai lahan hijau terbuka contohnya al; Insulindepark (Taman Nusantara) dan Oranjeplein (Taman Pramuka).

Bandung sebagi kota baru yang  dibangun oleh Kolonel purnawirawan V.I.Slors di awal tahun 1920an , Wilayah kota baru yang bergaya “Tropische stad” dan terdiri dari bangunan gedung  dan perumahan yang tergolong Lux dan modern buat zamannya yang didalamnya  Juga terdapat park dan plein dalam wilayah baru itu dan taman-taman itu erat kaitannya dengan kegiatan pasar malam tahunan ( Jaarbeurs ) dimana sinyo dan noni belanda bisa bersantai di taman yang ada disekitar areal itu jauh dari hiruk pikuk atraksi  jaarbeurs.

Ada sebuah perkumpulan yang pertama kali membangun Taman  di kota Bandung th 1885 adalah perkumpulan pengusaha swasta “Bandoeng Vooruit” yang dirintis oleh Pieter Sijthoff sehingga Gemeente Bandung pada th 1936 dijuluki sebagai “Tuin-Stad”yang berarti Kota Taman atau  “Garden City”

(Sebagai catatan:  Akhir th 1970-an Kota Bandung pernah mendapat sumbangan taman dari Bang Nolly ( Cokropranolo) Gubernur DKI Jakarta dan taman itu terletak di Kiri-kanan jalan Taman Pahlawan Cikutra ….coba   sekarang apa masih ada tidak Yaaaa).

Sementara itu sejak th 1917 wilayah bukit Dago Atas telah dikonservasi oleh “Bandoengsche Comite tot Natuurbescherming “ atau Komite Bagi Perlindungan Alam di Bandung, dibawah pimpinan Dr.W.Docters Van Leeuwen untuk dijadikan “Soenda Openlucht Museum”atau Moseum Alam Terbuka Sunda.

Komite itu telah berhasil mengumpulkan sumbangan dan subsidi dari pemerintah sebesar f 3.000,- sebagian dana itu digunakan untuk pembebasan        ( uang  penggantian) tanah atau sawah penduduk yang terkena proyek pelestarian alam  .

Ir.Haryoto Kunto ( Kuncen Bandung ) di halaman 140 buku SBDR juga menyebutkan tentang apa yang dilakukan oleh  Botanikus Dr.Van Leeuwen  sbb:

Dr.Van Leeuwen melakukan penelitian dan menemukan para penduduk menggarap hutan perawan di hulu Air terjun Dago(“Dago Waterval”)menjadi lahan pesawahan, mengingat bahwa hutan perawan disekitar air terjun itu , padahal di Areal Curug  Dago itu memiliki koleksi tanaman Anggrek yang Khas dan langka didapat dimanapun juga .

Mengapa demikian ? sebagai wilyah bekas danau Bandung yang surut airnya. Dataran tinggi Bandung memiliki kemungkinan ditumbuhi jenis tanaman langka.Namun apalah artinga “kelangkaan” itu bagi manusia yang buta hati terhadap keindahan Alam Hayati ciptaan Illahi ?

Banjir Bandang yang dahsyat menimpa kota Bandung di tahun 1917 mengisyaratkan kepada komite pimpinan Dr.Van leeuwen untuk mengambil langkah –langkah yang diperlukan, guna menyelamatkan kelestarian alam dan lingkungan wilayah kota Bandung, terutama daerah Bandung Utara yang sebagian besar hutan lindungnya telah digarap penduduk menjadi Pesawahan.

Daerah perbukitan Dago Atas yang telah dikuasai Komite itu kemudian mereka jadikan sebuah “Cagar Alam dan Budaya” dengan nama “ Soenda Openlucht Museum” atau Moseum Alam Terbuka Sunda .

Sebagaimana diketahui hutan di perbukitan Dago Atas memiliki jenis flora fauna yang langka, sebuah pesona alami ,berupa air terjun menghiasi cagar alam itu. konon menurut catatan Tuan Van Hien , seorang penghayat aliran kebatinan bangsa Belanda , penduduk bumiputra mempunyai kepercayaan, bahwa di air terjun Dago dan Cisarua ,ada “makhluk Halus” sebagai penunggunya ( lihat buku H.A.Van Hien, “Javaansche Gestenwereld” 1918).

Itulah sebabnya bila ada orang yang kecemplung, tenggelam pada jeram air terjun itu, jarang diketemukan kembali mayatnya , ya begitulah menurut Tuan Reitsma yang percaya takhayul, para korban itu jadi sandera mahluk halus …….

( sereeem juga ya !  mari kita kembali ke judul diatas  maaf sedikit ngelantur. )

Dalam perjalanannya kawasan Cagar alam terbuka Sunda itu dikenal sebagai bagian dari kelompok hutan lindung Pulosari kemudian diubah menjadi  Taman Wisata Alam Curug Dago sampai akhirnya Soenda Openlucht itu menjadi taman Hutan Raya Ir.H.Juanda . Hal ini tertuang didalam Surat keputusan Presiden no: 3 th 1985 tentang perubahan nama itu , peresmiannya dilakukan tanggal 14 Januari 1985 bertepatan dengan tanggal kelahir  tokoh Ir.H.Juanda itu. Dan Pengelolaannya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.192/Kpts-II/1985 diberikan kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.

Kemudian bagaimana nasib Air Terjun Curug Dago selepas di resmikannya THR.ir H.Juanda ?

Karena letak Air Terjun Curug Dago  itu berjauhan dan terhalang oleh rumah penduduk sehingga terisolir jauh dari Tahura Ir.H.Juanda , jaraknya sekitar 1,5 km itu akhirnya terabaikan dan  lambat laun hilang dari peredaran peta pariwisata Jawa-barat.

Taman Wisata Air Terjun “Curug Dago” menggeliat kembali setelah Penulis berhasil mengungkap kembali Prasasti 2 Raja Thailand , yang berada pada dua buah Batu Alam  , di tebing batuan  sebelah kanan didepan mulut air terjun Curug Dago itu, pada akhir bulan Desember 1988.

Seminggu setelah penemuan itu pada 7 Januari 1989 Rombongan dari Kedutaan Thailand bersama Biksu Pravithamtur didampingi oleh Drs. Anang Sumarna (mantan Kepala Pariwisata Jawa Barat ) dan keluarga Pangeran Paribrata yang tinggal di Dekat bunderan Siem ( Rumah Dahapati di Jl Cipaganti no:146 /sekarang ada warung Sop Buntut ) ditemani penulis berkunjung ke lokasi Prasasti 2 Raja Thailand  di Curug Dago itu.

Setelah itu sedikit sekali ada kegiatan kecuali th 1990 Kompepar Dago mengadakan Pestival Pariwisata Dago dengan menampilkan kesenian tradisional Jawa-barat. Beberapa komunitas seni dan budaya sesekali memanfaatkan keasrian Curug Dago , untuk melukis bersama  begitu pula anak sekolah memanfaatkannya untuk Camping dll.

Dua tahun berlalu sejak ditemukannya kembali Kedua Prasasti Thailand itu di ekspose di masmedia , tidak ada satupun intansi terkait ; Dinas Purbakala, Dinas Pariwisata maupun Dinas Kehutanan yang menaruh perhatian terhadap nasib Taman Wisata Air Terjun Curug Dago  termasuk kedua prasasti didalamnya. Akhirnya Penulis (Omas Witarsa) menulis surat dan mengirimkanya pada tanggal 15 Juli 1990 kepada Yang Mulia Raja Thailand  Bhumipol Adulyadej di Citralda Palace , Bangkok Thailand. Untuk mendapat perhatian/konfirmasi  dan bantuan untuk melestarikan kedua prasasti tersebut .

Kemudian pada bulan Agustus   Raja Thailand melalui Sekretaris Pribadinya mengirim surat balasan kepada saya bertanggal 9 Agustus 1990  yang isinya mengakui tentang kedua inskripsi yang ditulis oleh Raja Chulalongkorn pada th 1901 dan Raja Prajathipok th 1929  di tempat itu (Curug Dago). Menyusul  surat kedua bertanggal 25 Januari ,B.E 2533 (1991) diterima penulis  yang isinya menjelaskan tentang permintaan / memohon bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan pelestarian kedua benda bersejarah itu.

Setelah terjalin kerjasama antar Thailand -Indonesia , akhirnya Dinas Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala propins Jawa-barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung yang dipimpin oleh Alm .Drs Halwani Mihrob  beserta tim nya melakukan Ekskavasi di Situs Curug Dago dengan biaya  sekitar Rp 36 juta lebih  untuk membuat  2 buah Cungkup sebagai pelindung kedua batu prasasti . (lihat buku  Laporan penelitian  ………… ).

Setelah itu menyusul  bantuan dari pejabat ITB untuk memperbaiki akses jalan menurun ke Curug Dago yang becek dan licin dengan  anak tangga sekitar 50 meter ke arah Curug Dago, kemudian  dinas Pariwisata , begitu juga dinas Kehutanan melakukan beberapa penataan dan penghijauan  dikawasan Curug Dago dan pemerintah Thailand juga memberikan dananya sebagian untuk Curug Dago  setiap tahun .

Waktu silih berganti sampai pada13 Januari th 2003 dimana Duta Besar  Thailand berkerja sama dengan Rotary Club mengadakan kunjungan ke Lokasi prasasti Raja Thailand di Curuh Dago , kemudian malamnya saya diundang dalam Jamuan Malam oleh  Dubes Thailand di Hotel Panghegar  bersama dengan para Rotarian Bandung  . Kunjungan itu tampaknya bukan sekedar kunjungan konfirmatif semata  tetapi tentu lebih dari itu.

Pada hari  sabtu tgl 25 Oktober 2003 Dubes Thailand Dr.Chaiyong Sachipanon    bersama  rombongan( 2 Bus ) warga Thailand mengadakan acara Peringatan kelahiran dan kematian Raja Chulalongkorn yang ke 150 tahun bertempat di atas Air Terjun Curug Dago lengkap dengan acara ritual yang dibantu oleh Para Biksu dari Vihara Vivasana Graha Lembang .(Raja Chulalongkorn Lahir tgl 20 September 1853 dan Wafat pada tgl 23 Oktober 1925 ).

Melihat  acara yang berskala internasional  yang dapat kita jadikan Event setiap tahun itu ,seharusnya kita dapat menjadi  tuang rumah dan mampu mengambil manfaatnya , begitu juga warga sekitar Curug Dago hanya jadi  penonton saja , padahal dalam acara itu terdapat beberapa pejabat / dinas terkait yang hadir  seperti Drs.Memed Hamdan dari Pariwisata, dari Dinas Purbakala , dan Dinas Kehutanan Jawa-barat, serta beberapa usahawan dan konglomerat  dari Thailand .

Setelah peristiwa itu semua berjalan mengalir seperti air sungai  Cikapundung , yang kadang keruh oleh buangan kolam PLN yang berada di Tahura dan  dari PAM yang menguras airnya  justru dihari sabtu bahkan minggu, disaat  orang ingin menikmati gemericik dan jernihnya air sungai Cikapundung  yang memang sudah terkena polusi dari perumahan ITB dan rumah Penduduk sepanjang Sungai ( ada baiknya Para RW yang mendiami tepian Cikapundung dari hulu sampai ke hilir  sudah saatnya mnyediakan IPAL baik untuk limbah rumah tangga maupun industry . Memang sebaiknya ada kerjasama antara pengelola Tahura ,PLN dan Pariwisata dalam hal memilih hari , sebaiknya tidak hari libur , mungkin bisa hari Senin sampai Kamis.

Sampai pada akhir Mei 2008 suatu ketika hujan angin melanda Bandung dan sekitarnya, sebuah batu dari atas Tebing  menimpa  Cungkup Raja Chulalongkorn  dan membuat atapnya berantakan , peristiwa itu dilaporkan ke Kedutaan Thailand  dan dengan gerak cepat datang ke Bandung untuk  melakukan cek &recek, lalu  sebulan kemudian lansung dikirimkan 2 bh Paviliun dalam bentuk Knokdown dari Kerajaan Thailand  berikut  1 orang Arsitek dibantu dengan 4 orang tukang dan penerjemah untuk  merenovasi cungkup lama dan diganti dengan 2 buah Paviliun kecil merah yang baru dan selesai di bangun pada pulan Juni 2009.

Rencana Louncing Kedua Paviliun Merah itu akan di adakan akhir bulan Juni 2008 itu katanya akan dihadiri oleh Putra Mahkota Raja Thailand , namun karena Sekretaris satu Kedutaan Thailan  Mr Nattapol Na Songkla sebagai Penanggung jawabnya  dipindahkan tugasnya   secara mendadak ke Negara lain, akhirnya acara itu batal begitu saja padahal kami telah mengirimkan proposal 2 minggu sebelumnya.

Saat ini Saya bersama “Camel” (LSM Penjelajah Rimba dan Pendaki Gunung ) dan Dinas Kehutanan Tahura Ir.H Juanda , serta salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Bandung “ ITENAS”,   sedang mencoba mengghidupkan kembali kegairahan masyarakat di Curug Dago , serta akan meluncurkan “Cikapundung Rehabilitation Programe” yang rencananya akan di canangkan  pada tanggal 22 Desember 2009 di Curug Dago  Bandung. Diharapkan respon positif   masyarakat Bandung  untuk bisa  berpartisipasi mensukseskan program sungai Cikapundung Bersih ini.

 

Spanduk tentang Taman Wisata Air Terjun "Curug Dago"

Sarana baru dengan harapan baru , melestarikan alam ku.

Cikapundung Rehabilitation Programe (CRP) diluncurkan kepada Masyarakat, bertujuan memberikan contoh kepada masyarakat agar tidak mencemari sungai dengan sampah dan limbah keluarga,membersihkan sungai dari sampah, mengumpulkan, memilah dan mengolah , mengusahakan pengadaan Jaring Sampah dan mengolahnya dengan Teknologi Pencacah sampah,  dan direncanakan untuk memasang Pembangkit listrik tenaga air, Membuat MCK , serta mengembangkan  sanggar seni budaya Jawa-barat dan membuat agenda pertunjukan kesenian Tradisional  di Curug Dago.

Teknik biopori  akan kami coba terapkan sebagai Penampung air hujan dan menggantikan  fungsi babi hutan yang sering membuat lubang di hutan dan secara tidak langsung membuat sumur resapan dimana -mana , fungsi itu  harus kita gantikan karena babi hutan semakin langka habis diburu atau ditangkap untuk “adu Bagong”.

Melihat sejarahnya Air Terjun Dago tampaknya memang memiliki  kelebihan dibanding  yang  lain (walau tidak setinggi Curug Omas di Maribaya )    antara lain:

  1. Air terjun “Curug Dago” adalah Arena wisata Geologi dan merupakan  Rekaman Lahar dari Gunung Tangkuban Parahu Yang Legendaris ketika meletus; lihat tekstur batu hitam berlubang bekas gelembung yang meletus terkena air yang berada di Sungai Cikapundung .
  2. Air terjun “Curug Dago” adalah bukti nyata hubungan Emosional antara  Thailand  dan  Nusantara ( Indonesia ), terbukti dengan keberadaan Kedua prasasti 2 Raja Thailand di Curug Dago itu.
  3. Air terjun “Curug Dago” saat ini merupakan hutan lindung  yang merupakan Paru-paru kota   Bandung .
  4. Air terjun “Curug Dago” sangat cocok untuk   kegiatan Kontemplasi .
  5. Air terjun “Curug Dago” adalah arena bermain (outbound  dll) untuk mengenal alam; karena memiliki keaneka ragaman hayati  yang perlu digali.
  6. Air terjun “Curug Dago” adalah bagian dari museum alam terbuka Bandung.
  7. Air Terjun Curug Dago sangat tepat apabila dijadikan symbol Persahabatan ASEAN ( Monumen Persahabatan ASEAN ).
  8. Air Terjun Curug Dago letaknya didalam kota ,strategis karena dekat dengan terminal Dago sehingga memudahkan pejalan kaki menuju kesana.
  9. dll.

Perjuangan   belum   berakhir , dan kami berupaya dengan segala cara agar dapat mengembalikan fungsi Taman Wisata  Air Terjun Curug  Dago tidak sekedar hutan kota yang terlupakan , akan tetapi kami akan jadikan ia kekayaan yang tiada habisnya dihati kami . Walaupun luasnya tidak lebih dari lapangan sepak bola.  Seperti ungkapan di atas “Paradisi in sole, Paradisus territris” Taman dibawah terik matahari adalah surga diatas bumi .

Curug Dago Mulai dilupakan?

UDARA yang sejuk di kawasan Bandung Utara (KBU) ternyata belum menjadi daya tarik wisata. Dari sekian banyak objek wisata di KBU, Curug Dago yang paling jarang dikunjungi masyarakat. Objek wisata ini berada di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. H. Djuanda Balai Pengelolaan Tahura Dinas Kehutanan Jabar. Selain Curug Dago, tempat-tempat yang masuk dalam Tahura Ir. H Djuanda adalah Hutan Dago Pakar, gua peninggalan Belanda dan gua peninggalan Jepang, kolam buatan yang berfungsi sebagai tempat penampungan air dari Sungai Cikapundung untuk PLTA Dago Bengkok, serta Curug Omas di Maribaya.

Curug Dago terletak tidak begitu jauh dari jalan raya, namun agak tersembunyi sehingga pengunjung agak sulit mengunjunginya. Tidak heran kalau kawasan ini sering dijadikan tempat kaum muda yang ingin memadu kasih. Kendati letaknya tersembunyi, namun Curug Dago bisa dibilang sangat dekat dengan akses jalan utama dan Terminal Dago serta berdekatan dengan Taman Budaya (Dago Tea House) yang selalu ramai didatangi pengunjung.
Terletak di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut, Curug Dago juga menyimpan jejak sejarah bagi Kerajaan Thailand. Tak jauh dari lokasi air terjun, terdapat dua prasasti batu tulis peninggalan sekitar tahun 1818. Menurut para ahli sejarah, kedua prasasti tersebut konon merupakan peninggalan Raja Thailand, Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) yang pernah berkunjung ke Curug Dago.
Air terjun ini memang tidak setinggi Curug Omas di objek wisata Maribaya yang memiliki ketinggian 35 meter. Curug Dago hanya memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Air terjun jatuh ke dalam sebuah rongga yang terdiri dari batu-batu besar, sehingga suara gemuruh air sangat terdengar jelas dari kejauhan.
Perusakan alam di daerah hulu kian tak terkendali, sehingga air yang mengalir ke curug ini semakin kotor. Tak heran keberadaannya sekarang tidak begitu terkenal di telinga warga Kota Bandung maupun masyarakat Jabar. Objek wisata alam ini tampak sepi dari kunjungan wisatawan. Hanya beberapa orang saja yang mau memanfaatkan Curug Dago untuk melepas penat.
Sepinya pengunjung ke Curug Dago diakui seorang juru pelihara (jupel) Curug Dago, Lili (65). Menurutnya, sejak beberapa tahun ini Curug Dago jarang dikunjungi wisatawan. “Yang datang hanya anak muda atau mahasiswa yang ingin mengetahui nilai sejarah yang ada di Curug Dago,” ujar Mang Lili.
Curug Dago yang berada di Kp. Curug Dago, Kel. Ciumbuleuit, Kec. Cidadap, Kota Bandung dikenal sebagai tempat ditemukannya dua prasasti Kerajaan Thailand. Tempat ini pernah digunakan Presiden RI Pertama, Soekarno untuk latihan pidato.
Kabar tersebut bisa saja benar. Jika dilihat suasananya memang sangat mendukung untuk berlatih pidato, tenang dan asri. Yang terdengar hanya gemuruh air yang turun dari atas batu setinggi 15 meter.
Konon, Soekarno berlatih pidato di balik air terjun (curug). Hal itu dilakukan untuk melatih suara agar terdengar berwibawa dan terdengar keras. Pasalnya, harus bisa mengalahkan gemuruhnya suara air terjun.
Tidak heran jika pidato Bung Karno sangat menggelegar dan berwibawa, sehingga mampu membakar semangat masyarakat Indonesia untuk terus berjuang melawan penjajah kolonial Belanda.
Hal tersebut setidaknya disampaikan Bah Odon, salah seorang warga Kp. Curug Dago. Lelaki yang selalu mengenakan ikat kepala ini mengatakan, ia mendapat kabar tersebut dari kakeknya. “Saya mendengar dari kakek, Bung Karno sering berlatih pidato di balik Curug Dago. Namun, tidak ada satu orang pun yang menanyakan hal tersebut. Para orangtua di sini semua tahu,” papar Bah Odon.
Namun sayang, hal itu tidak tertulis dalam kisah atau dalam buku sejarah tentang Bung Karno. Karena itu, masyarakat Kp. Curug Dago berkeinginan menggelar Festival Curug Dago. Festival ini bertujuan untuk menarik minat wisatawan pada keindahan dan sejarah Curug Dago. Selain itu, juga untuk menanamkan cinta pada lingkungan di Kawasan Bandung Utara (KBU).
Kondisi lingkungan di KBU, termasuk di kawasan Curug Dago, kini sangat memprihatinkan. Ketika hujan turun lebat, air terlihat cokelat pekat, mirip bajigur. Dulu, ungkap salah seorang seniman asli Dago, Dodong Kodir, air Curug Dago sangat jernih sehingga bisa digunakan untuk minum dan mandi. Tapi sekarang tidak lagi, karena kotor dan bau. Perusakan lingkungan di bagian hulu serta di KBU dan kawasan Curug Dago dituduh sebagai penyebab utama. Akibatnya, Curug Dago makin ditinggalkan wisatawan.

Prasasti:

Di Curug Dago terdapat dua prasasti Raja Thailand yang pernah berkunjung dan bersemedi di tempat ini. Menurut Kasi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Drs. Zakaria Kasimin, kedua prasasti tersebut menunjukkan Raja Thailand pernah berkunjung ke Indonesia, sekalipun belum ada hubungan antara Indonesia dengan Thailand. Kedatangan Rama V sebatas undangan dari pemerintah kolonial Belanda karena saat itu Indonesia belum merdeka.
Menurut catatan peneliti prasasti Thailand, Alm. Muchlis Michrob, Raja Thailand datang ke Indonesia untuk memenuhi undangan Belanda dan untuk mendapatkan cenderamata berupa patung-patung Budha yang diambil dari Candi Borobudur, seperti patung Loro Jongrang, dll. Namun di tengah perjalanan, kapal pembawa cenderamata tersebut tenggelam (belum diketahui lokasinya). “Karena itu, Raja Rama V kemudian mengalihkan perjalanannya ke wilayah Jabar dan berhenti di daerah Curug Dago, kemudian bersemedi di sana,” ujarnya.
Sebagai tanda pernah berada di kawasan Curug Dago, Raja Thailand kemudian menuliskan namannya dalam sebuah batu besar (prasasti). Huruf yang digunakan adalah huruf ramkhamheng jenis seketai. Dalam huruf latinnya tertulis, “Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand mengunjungi Curug Dago pertama kali pada 19 Juni B.E. 2439 (A.D. 1896). Dalam kunjungannya yang kedua kali tanggal 6 Juni B.E. 2444 (A.D. 1901), raja menorehkan paraf yang dilengkapi dengan tahun Rattanakosin (Bangkok) Era 120 di atas batu”. Kedua prasasti tersebut merupakan peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) ditulis sekitar tahun 1818.
Raja Chulalonkorn merupakan raja yang sangat dicintai rakyatnya. Pada kunjungannya ke Batavia, ia membawa beberapa suvenir dari Kerajaan Syam. Salah satunya adalah patung gajah emas yang kini berada di Museum Gajah Jakarta. Berdasarkan hasil riset, sekitar 2 bulan beliau berada di daerah tersebut. Dan kemudian meninggalkan prasasti batu tulis tersebut.
Akses ke Curug Dago memang harus segera diperbaiki dan dibenahi. Tangga yang menuju ke objek tersebut sudah mengkhawatirkan. Sejumlah pegangan tangga yang terbuat dari besi banyak dicuri. “Kondisi ini sangat tidak sesuai dengan dua bangunan cungkup yang terlihat megah dan mewah,” ujar Mang Lili, seorang jupel yang diangkat pemprov sejak tahun 1993.
Mang Lili menyatakan, kedua bangunan cungkup itu dibuat langsung oleh orang Thailand. Bahkan bahannya pun berasal dari Thailand. Tak heran ornamen hiasan serta bengunannya mirip dengan bangunan di Kerajaan Thailand.
“Pemerintah Thailand sangat perhatian terhadap benda peninggalan nenek moyangnya dengan membangun dua buah cungkup. Kedua bangunan itu dibangun sejak enam bulan lalu, mengganti bangunan buatan pemerintah Indonesia yang sudah hancur,” paparnya. (kiki kurnia/”GM”)**